Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Pahlawan Kebersihan

RangkaiInformasi.blogspot.com, Jakarta – Perkembangan zaman yang semakin maju dan perkekonomian yang semakin membuat beberapa kalangan mencari akal untuk memenuhi kebutuhan hidup, cara apapun mereka lakukan demi memutar roda perkekonomian hidup ini. Salah satunya dengan menjadi pemulung. Dengan berbekal karung besar dan pengait besi mereka menyusuri jalan demi jalan yang ada di kota ini.

Salah satunya seorang pemulung yang berada di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan, yang bernama Ibu Susi (41). Ia telah menggeluti profesi ini sekitar 20 tahun silam, dengan berbekal nekat dan tekad untuk memperbaiki perekekonomian, ia mengadu nasib di kota besar ini. Bersama suaminya ia dating dari Garut, Jawa Barat sekitar tahun 1995. Dan hingga sekarangpun ia masih menggeluti profesi ini, meskipun dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup, ia mencoba menghidupi kebetuhan hidupnya beserta 7 orang anaknya. Walaupun sudah tidak lagi muda dan kuat, tetapi ia tetap berusaha keras agar anak dan cucunya dapat bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak.

Banyak kalangan yang tidak menyukai profesi seperti yang digeluti Ibu Susi dengan alasan seperti, mereka merusak wajah Ibu Kota dan hanya menambahkan beban permasalahan yang ditanggung pemerintah. Namun jika kita telusuri kembali, sebenarnya profesi ini juga menimbulkan efek positif di hal lingkungan.


“Coba kalau ngga ada pemulung, mungkin sampah plastik banyak berserakan di banyak tempat”, ucap Nisa Yankafrina selaku Mahasiswi BSI, Jumat (12/06/15). Memang benar jika kita sadari sebenarnya peran pemulung di Ibu Kota ini juga memberikan hal positif. Terlebih dengan sikap arogan dan tidak menghargai yang dimiliki sebagian besar penduduk di Jakarta. Jika tidak ada pemulung sampah plastik di Jakarta ini sudah menggunung-gunung. “Kalau menurut saya pemulung itu pahlawan kebersihan yang tidak ingin dipuji akan kebaikannya” ujar Arif selaku masyarakat sekitar. Walaupun profesi mereka terlihat rendah, namun mereka juga mempunyai andil besar dalam menjaga lingkungan yang ada di kota ini.

Kisah Lama Jakarta Dengan Pemulung

RangkaiInformasi.blogspot.com, Jakarta – Himpitan ekonomi yang semakin mencekik bagi kalangan kurang mampu, membuat sebagian kalangan tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Tidak hanya dikota besar seperti Jakarta bahkan dikota-kota lainpun masyarakat juga mengalaminya. Bagi masyarakat yang merasakan selalu saja menyalahkan pemerintah dari apa yang mereka alami. Namun, sebenarnya jika sebagian masyarakattersebut berpikir ulang, kesalaham tidak hannya ada ditangan pemerintah, tetapi ditangan mereka sendiri. Contoh kasus tua yang dialami Ibu Kota Jakarta yaitu, permasalahan mengenai pendatang dari daerah yang kurang bekal akan ilmu dan skill dalam mencari peruntungan di Jakarta. Sehingga membuat mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang layak.

Pemulung, hampir disetiap sudut kota dan jalan di Jakarta kita dapat menjumpai profesi seperti ini. Mereka merupakan salah satu golongan pengadu nasib yang bernasib kurang baik tiba di Jakarta. Biasanya mereka dating ke Ibu Kota karena tergiur dan silau akan kemegahan Ibu Kota Jakarta, namun mereka tidak memikirkan sulitnya persaingan yang akan dihadapi di kota ini. Sebagian besar dari mereka minim akan ilmu dan skill, yang akhirnya membuat mereka berprofesi sebagai pemulung. Dengan berbekal karung besar dan besi pengait, mereka berjalan menyusuri ruang dan sudut kota untuk mencari gelas/botol plastik bekas. Dan banyak juga dari mereka yang tinggal dibantaran sungai, bantaran perlintasan kereta api, bahkan hidup berpindah-pindah menggunakan gerobak (re : Manusia Gerobak).

“Setahu dan sepenglihatan saya pemerintah sudah melakukan upaya-upaya untuk mengurangi golongan tersebut, agar wajah kota Jakarta ini menjadi lebih baik”, Ucap Ibu Ria Eka selaku Dinas Sosial di Kelurahan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Sabtu (20/06/15). Tujuan pemerintah melakukan upaya pembatasan bagi pendatang baru bukan dikarenakan hanya untuk menitik beratkan golongan tersebut, namun pemerintah juga berupaya untuk melakukan perbaikan disektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Ya contohnya itu seperti, pemerintah telah melakukan atau membuka lowongan pekerjaan di daerah mereka berasal”, ucap Ibu Ria Eka mengenai upaya apa yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi pendatang baru yang akan berdatangan ke Jakarta.


Terlebih saat ini menjelang bulan Ramadhan, sudah dapat dipastikan pendatang dari daerah akan banyak berdatangan ke Ibu Kota hanya untuk sekedar mencari peruntungan tanpa bekal yang memadai. Banyak dari mereka yang menjadi pemulung dan bahkan gelandangan (re : Tuna Wisma). Seharusnya bagi masyarakat yang ingin mencari peruntungan di Jakarta harus membekali dirinya dengan ilmmu seta kemampuan lain, supaya ketika mereka tiba di Jakarta mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak yang bisa memperbaiki perekenomian mereka.

Sampah Rezeki

RangkaiInformasi.blogspot.com, Jakarta – Dengan seiring waktu dan perkembangan zaman yang semakin maju, justru membuat beberapa kalangan masyarakat mengalami nasib yang kurang baik dalam hal perekonomian. Hal ini disebabkan oleh tidak meraratanya pembangunan lapangan pekerjaan dan juga dikarenakan si penasib yang kurang bekal akan ilmu dan skill yang dibutuhkan di zaman seperti ini. Setiap tahun bahkan setiap harinya banyak sekali pendatang yang mencoba mencari peruntungan di Ibu Kota ini, namun dari sebagian besar mereka kurang cukup bekal untuk mengarungi ombak besar perekonomian yang ada di Ibu Kota Indonesia ini.

Ibu Susi (41), wanita separuh baya ini berasal dari daerah Garut, Jawa Barat. Ia merupakan salah satu dari sekian banyaknya golongan masyarakat yang bernasib kurang baik untuk beradu nasib di Jakarta. Ibu Susi ialah seorang pencari gelas/plastik bekas (re : Pemulung). Sambil mengasuh cucunya yang masih berusia 5 tahun, ia menyusuri jalan disekitar daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia telah menjalani profesi sebagai pemulung ini sekitar 20 tahun yang lalu. Dengan alasan yang klise dan sama, Ibu Susi beralasan dating ke Jakarta karena mengira di Ibu Kota ini mudah untuk mencari pekerjaan.

Mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, Ibu 7 orang anak ini menyisir jalan demi jalan, berharap menemukan rezeki yang ia cari dengan sebagai pemulung. Kondisi suami yang sudah tidak mampu lagi bekerja membuat ia mengambil alih peran tulang punggung keluarga. “Dulu bapak juga kerjanya kayak gini, tapi sudah lama dia sakit. Ya, jadi saya yang gantiin bapak buat nyari rezeki”, ucap Ibu Susi, Jumat (12/06/15). Hari demi hari ia kumpulkan gelas/botol plastik bekas, lalu disetiap minggunya ia sambangi Bank Sampah untuk menukarkannya dengan sejumlah uang. Untuk 1 kilogram gelas/botol plastik bekas dihargai sekitar Rp. 3.000,- dengan catatan harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran dan sisa plastik yang menempel.

Untuk satu hari Ibu Susi dapat mengumpulkan sekitar 2-3 kilogram plastik bekas. “Kalau ditanya cukup engganya sih saya cuma bilang harus dicukup-cukupin, meskipun saya punya anak yang sudah kerja, tapi saya ngerasa malu kalau minta sama anak-anak saya”, ucap Ibu Susi.

Tidak peduli tanggapan dan penglihatan orang, tidak peduli walaupun panas dan hujan, tidak pedulii dengan segala resiko yang ada, Ibu Susi mempunyai tekad dan usaha yang keras, memiliki tanggung jawab besar dalam kehidupann yang ia jalani. Bekerja keras, bersyukur dan berdoa yang selalu Ibu Susi lakukan untuk menjalani roda kehidupan ini.