RangkaiInformasi.blogspot.com, Jakarta – Dengan seiring waktu dan perkembangan zaman yang semakin maju, justru
membuat beberapa kalangan masyarakat mengalami nasib yang kurang baik dalam hal
perekonomian. Hal ini disebabkan oleh tidak meraratanya pembangunan lapangan
pekerjaan dan juga dikarenakan si penasib yang kurang bekal akan ilmu dan skill yang dibutuhkan di zaman seperti
ini. Setiap tahun bahkan setiap harinya banyak sekali pendatang yang mencoba
mencari peruntungan di Ibu Kota ini, namun dari sebagian besar mereka kurang
cukup bekal untuk mengarungi ombak besar perekonomian yang ada di Ibu Kota
Indonesia ini.
Ibu
Susi (41), wanita separuh baya ini berasal dari daerah Garut, Jawa Barat. Ia
merupakan salah satu dari sekian banyaknya golongan masyarakat yang bernasib
kurang baik untuk beradu nasib di Jakarta. Ibu Susi ialah seorang pencari
gelas/plastik bekas (re : Pemulung). Sambil mengasuh cucunya yang masih berusia
5 tahun, ia menyusuri jalan disekitar daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia
telah menjalani profesi sebagai pemulung ini sekitar 20 tahun yang lalu. Dengan
alasan yang klise dan sama, Ibu Susi beralasan dating ke Jakarta karena mengira
di Ibu Kota ini mudah untuk mencari pekerjaan.
Mulai
dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, Ibu 7 orang anak ini menyisir jalan demi
jalan, berharap menemukan rezeki yang ia cari dengan sebagai pemulung. Kondisi
suami yang sudah tidak mampu lagi bekerja membuat ia mengambil alih peran tulang
punggung keluarga. “Dulu bapak juga kerjanya kayak gini, tapi sudah lama dia
sakit. Ya, jadi saya yang gantiin bapak buat nyari rezeki”, ucap Ibu Susi, Jumat (12/06/15). Hari demi hari ia kumpulkan gelas/botol plastik bekas, lalu disetiap
minggunya ia sambangi Bank Sampah untuk menukarkannya dengan sejumlah uang.
Untuk 1 kilogram gelas/botol plastik bekas dihargai sekitar Rp. 3.000,- dengan
catatan harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran dan sisa plastik yang
menempel.
Untuk
satu hari Ibu Susi dapat mengumpulkan sekitar 2-3 kilogram plastik bekas.
“Kalau ditanya cukup engganya sih saya cuma bilang harus dicukup-cukupin,
meskipun saya punya anak yang sudah kerja, tapi saya ngerasa malu kalau minta
sama anak-anak saya”, ucap Ibu Susi.