Senin, 22 Juni 2015

Sampah Rezeki

RangkaiInformasi.blogspot.com, Jakarta – Dengan seiring waktu dan perkembangan zaman yang semakin maju, justru membuat beberapa kalangan masyarakat mengalami nasib yang kurang baik dalam hal perekonomian. Hal ini disebabkan oleh tidak meraratanya pembangunan lapangan pekerjaan dan juga dikarenakan si penasib yang kurang bekal akan ilmu dan skill yang dibutuhkan di zaman seperti ini. Setiap tahun bahkan setiap harinya banyak sekali pendatang yang mencoba mencari peruntungan di Ibu Kota ini, namun dari sebagian besar mereka kurang cukup bekal untuk mengarungi ombak besar perekonomian yang ada di Ibu Kota Indonesia ini.

Ibu Susi (41), wanita separuh baya ini berasal dari daerah Garut, Jawa Barat. Ia merupakan salah satu dari sekian banyaknya golongan masyarakat yang bernasib kurang baik untuk beradu nasib di Jakarta. Ibu Susi ialah seorang pencari gelas/plastik bekas (re : Pemulung). Sambil mengasuh cucunya yang masih berusia 5 tahun, ia menyusuri jalan disekitar daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia telah menjalani profesi sebagai pemulung ini sekitar 20 tahun yang lalu. Dengan alasan yang klise dan sama, Ibu Susi beralasan dating ke Jakarta karena mengira di Ibu Kota ini mudah untuk mencari pekerjaan.

Mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore, Ibu 7 orang anak ini menyisir jalan demi jalan, berharap menemukan rezeki yang ia cari dengan sebagai pemulung. Kondisi suami yang sudah tidak mampu lagi bekerja membuat ia mengambil alih peran tulang punggung keluarga. “Dulu bapak juga kerjanya kayak gini, tapi sudah lama dia sakit. Ya, jadi saya yang gantiin bapak buat nyari rezeki”, ucap Ibu Susi, Jumat (12/06/15). Hari demi hari ia kumpulkan gelas/botol plastik bekas, lalu disetiap minggunya ia sambangi Bank Sampah untuk menukarkannya dengan sejumlah uang. Untuk 1 kilogram gelas/botol plastik bekas dihargai sekitar Rp. 3.000,- dengan catatan harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran dan sisa plastik yang menempel.

Untuk satu hari Ibu Susi dapat mengumpulkan sekitar 2-3 kilogram plastik bekas. “Kalau ditanya cukup engganya sih saya cuma bilang harus dicukup-cukupin, meskipun saya punya anak yang sudah kerja, tapi saya ngerasa malu kalau minta sama anak-anak saya”, ucap Ibu Susi.

Tidak peduli tanggapan dan penglihatan orang, tidak peduli walaupun panas dan hujan, tidak pedulii dengan segala resiko yang ada, Ibu Susi mempunyai tekad dan usaha yang keras, memiliki tanggung jawab besar dalam kehidupann yang ia jalani. Bekerja keras, bersyukur dan berdoa yang selalu Ibu Susi lakukan untuk menjalani roda kehidupan ini.